Friday, 10 July 2015

Muhammad Fathudin, Penggerak Lahirnya Hutan Desa di Semende


Coffedo - Muhammad Fathudin resah. Masih ada beban yang menggelayut di pundaknya. Dari 15 hutan desa di Semende yang diusulkan, baru 12 yang disetujui pemerintah. Tiga desa; Penindaian, Rekimai Jaya, dan Swarna, masih menunggu kabar. Bahkan, 12 desa yang sudah disetujui tersebut, surat keputusan (SK) nya belum juga diserahkan.

“Masyarakat Semende sudah tidak sabar menantikan kepastian hutan desa mereka,” ujar Fathudin, pertengahan September 2014. Meski nada suaranya meyakinkan, namun tatapan mata lelaki 38 tahun ini tampak menerawang.

Semende merupakan daerah yang berada di kaki Bukit Barisan, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Secara administratif, Semende terbagi dalam tiga kecamatan yaitu Semende Darat Laut, Semende Darat Ulu, dan Semende Darat Tengah.

Bagi masyarakat Semende, totalitas Fathuddin terhadap kehidupan mereka tidak perlu ditanyakan lagi. Warga Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut, ini merupakan tokoh utama di balik upaya hadirnya hutan desa di Semende.



Bersama Sukarji, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kehutanan Semende, Fathuddin menyusun konsep hutan desa yang ditawarkan Dinas Kehutanan Muara Enim 2011 lalu. Konsep ini dianggap sebagai jalan tengah yang memberikan kesempatan warga Semende untuk mengelola lahan sekitar 1,5 hektar per kepala keluarga, yang berada di Hutan Lindung Jambul Asahan selama 35 tahun, yang setiap lima tahunnya dievaluasi.

Hadirnya konsep hutan desa memang diharapkan dapat mengatasi polemik kebun kopi masyarakat Semende. Kebun kopi garapan masyarakat yang berada di hutan, warisan leluhur mereka, dianggap memasuki Hutan Lindung Jambul Asahan yang ditetapkan pemerintah seluas 82 ribu hektar. “Akibatnya, masyarakat Semende dianggap merambah kawasan lindung itu meski bukti tanaman leluhur mereka seperti bekas tanaman kopi masih terlihat jelas,” ungkap Fathudin.

Upaya yang dilakukan Fathuddin ini didukung Sarmanuddin, warga Desa Muara Danau yang kemudian terpilih sebagai Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa Muara Danau. Menurutnya, masyarakat Muara Danau memerlukan kepastian hukum dalam menggarap lahan leluhur mereka seluas 250 hektar yang dianggap masuk kawasan lindung tersebut. “Apapun bentuknya kami setuju dan siap mengikuti, asalkan untuk kebaikan bersama.”

Muhammad Fathudin


Sebanyak 15 desa yang diusulkan terlibat program hutan desa pada 2013 tersebut terbagi dalam tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Semende Darat Tengah: Desa Gunung Agung (1.100 hektar), Kota Padang (1.110 hektar), Muara Tenang (1.700 hektar), Seri Tanjung (620 hektar), Tenam Bungkuk (860 hektar), Rekimai Jaya (3.000 hektar), dan Swarna (2.000 hektar).

Kecamatan Semende Darat Laut yaitu Desa Penindaian (500 hektar) dan Muara Danau (1.000 hektar).

Kecamatan Semende Darat Ulu yaitu Desa Pelakat (3.000 hektar), Danau Gerak (5.000 hektar), Tanjung Tiga (1.000 hektar), Tanjung Agung (1.420 hektar), Cahaya Alam (840 hektar), dan Segamit (3.280  hektar).

Masyarakat Semende yang Bangga Akan Kopi


Coffede - Jika melintasi jalan di daerah Semende, Bukit Barisan, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, yang berada di ketinggian 1000-1.600 meter dari permukaan laut, jangan terkejut bertemu dengan hamparan biji kopi di jalan. Jangan ragu melewatinya. Para pemiliknya justru mengharapkan hamparan biji kopi tersebut dilindas roda kendaraan yang lewat. Sebab, roda kendaraan itu akan mengelupaskan kulit biji kopi.

Menjemur biji kopi di atas aspal jalan dinilai lebih cepat mengeringkan, dibandingkan menjemurnya di atas tanah. Tidak heran, saat musim panen kopi, jalan di Semende akan dipenuhi hamparan biji kopi yang baru dipetik dari pohon. Biji kopi yang dijemur di atas tanah akan memakan waktu tiga pekan, yang dijemur di atas aspal jalan waktunya cukup dua pekan.

Biji kopi yang sudah kering dan terkelupas kulitnya, kemudian dicuci dan dijemur selama dua hingga tiga hari atau lebih lama tergantung cuaca. Sebelum dijadikan bubuk, biji kopi itu diongseng di atas kuali hingga berwarna hitam.

Nah, kopi ini cukup dikenal di Sumatera Selatan, beberapa kota di Indonesia, termasuk di Eropa. Sesuai asalnya kopi ini dinamakan “Kopi Semende”.  Kopi Semende memiliki khas dibandingkan kopi robusta lainnya. Aroma yang kuat, kental, tapi tidak terlalu pahit.

“Dulu dari berkebun kopi, warga Semende dikenal sebagai masyarakat yang makmur. Tapi sekarang kehidupan kami miskin. Penghasilan dari berkebun kopi sama sekali tidak seimbang dengan pengeluaran kami,” kata Fahtudin, warga Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim, Sumsel, pertengahan September 2014 lalu.

Di masa jayanya, kata Fahtudin, warga Semende mampu menyekolahkan anaknya hingga ke Pulau Jawa, termasuk beberapa kali menunaikan ibadah haji. “Kini kemakmuran itu tinggal cerita.”



Penyebab menurunnya kesejahteraan petani kopi di Semende, selain produksi yang terus menurun karena lahan yang digunakan tidak lagi subur, juga tidak seimbangnya antara pendapatan dari berkebun kopi dengan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Dijelaskan Fahtudin dari luasan kebun kopi di Semende sekitar 10 ribu hektar, umumnya ditanam kopi robusta, yang berada di Kecamatan Semende Darat Laut, Semende Darat Ulu, dan Semende Darat Tengah, yang hasilnya sekitar 12 ribu ton biji kopi kering per tahun.

Jika dijual dengan harga rata-rata Rp20 ribu per kilogram, warga Semende mendapatkan penghasilan berkisar Rp240 miliar. Angka yang cukup besar. Namun, jika dibagi rata dengan warga Semende yang berjumlah 39.147 jiwa, maka setiap warga Semende mendapatkan pemasukan sekitar Rp500 ribu per bulan.

Umumnya warga Semende tidak ada pendapatan lain, kecuali berkebun kopi. Yang dapat dilakukan warga Semende untuk menambah pendapatan dengan menanam sayuran, mencari ikan, serta bekerja di sawah milik orang lain untuk mendapatkan upah berupa beras. Kondisi inilah yang menempatkan warga Semende sebagai masyarakat miskin di Kabupaten Muara Enim.


Kopi Semende Tunggu Tubang


Coffede - Kopi bubuk dipilih dari biji kopi pilihan yang berasal dari perkebunan warga Semende. Karena keaslian kopinya sehingga tidak menyebabkan kembung.

Bubuk Kopi Semende merek Tunggu Tubang dikemas dengan kemasan yang cantik, sehingga kopi ini sangat cocok jika digunakan untuk cindera mata. Bagi anda yang mempunyai rekan kerja, atau akan berkunjung kepada sanak keluarga maka kopi ini selayaknya menjadi buah tangan anda. Saat ini, anda tidak perlu lagi datang ke Semende untuk membeli kopi, cukup belanja di toko online kami, maka anda akan mendapatan kopi asli Semende dengan kwalitas terbaik